Pages

Jaket Jeans sebagai Tren Fashion di Era Millenial

Rabu, 06 Desember 2017

JAKET JEANS SEBAGAI TREN FASHION ERA MILLENIAL


MAKALAH
Disusun untuk Memenuhi Tugas
pada Mata Kuliah Kebudayaan Populer Semester V
yang Diampu oleh Laura Andri R.M., S.S., M. Hum


Oleh;
FAQIH SULTHAN                  NIM 13010114140110
PINKAN SAFITRI                  NIM 13010115140043
PRAMESTI PUTRI H             NIM 13010115120032
ZILTA KHOVIANIDA N         NIM 13010115120037



JURUSAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2017


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Budaya Pop berasal dari dua kata, yaitu kata “Budaya” dan “Pop”. Sebelum kita melangkah jauh untuk mengetahui arti dari kata “budaya” dan “pop”, maka perlu kita ketahui pula arti dari masing-masing kata tersebut. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Budaya adalah pikiran; akal budi, adat istiadat,sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang (beradab, maju), sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah. Selain itu budaya juga diartikan sebagai cara manusia memberikan respons kepada lingkungannya, agar dia bisa survive dan menang. Sedangkan kata “Pop” sendiri berasal dari kata “Populer” yang dalam KBBI diartikan sebagai sesuatu yang dikenal dan disukai orang banyak (umum), sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada umumnya; mudah dipahami orang banyak, disukai dan dikagumi orang banyak. Maka budaya pop atau budaya popular dapat diartikan sebagai sesuatu yang sudah berkembang kemudian menjadi kebiasaan dan disukai oleh banyak orang.
Subandy menyatakan bahwa budaya pop adalah budaya yang berasal dari rakyat, melalui pendekatan yang beranggapan bahwa budaya pop adalah sesuatu yang diterapkan pada rakyat dari atas. Budaya pop adalah budaya otentik rakyat. Budaya pop seperti halnya budaya daerah merupakan dari rakyat untuk rakyar. Definisi pop dalam hal ini seringkali dikait-kaitkan dengan konsep romantisme budaya kelas buruh yang kemudia ditafsirkan sebagai sumber utama protes simbolik dalam kapitalisme kontemporer. Namun ada satu persoalan dengan pendekatan ini yakni pertanyaan tentang siapa yang termasuk dalam kategori rakyat. Persoalan lainnya adalah hakikat wacana dari mana asal-usul budaya itu terbentuk. Tidak peduli berapa banyak kita memakai definisi ini, fakta membuktikan bahwa rakyat tidak secara spontan mampu menghasilkan budaya dari bahan-bahan material yang mereka buat sendiri (Subandy, 20:40)
Istilah “budaya populer” (culture pop) sendiri dalam bahasa latin merujuk secara harfiah pada “culture of the people” (budaya orang-orang atau masyarakat). Mungkin itulah sebabnya banyak pengkaji budaya yang melihat budaya yang hidup dan serangkaian artefak budaya yang bisa kita temui dalam kehidupan sehari-hari orang kebanyakan.
Salah satu yang terkenal dan selalu menjadi sorotan adalah dunia fashion. Dunia fashion dari segi budaya populer selalu menaik perhatian dunia, kaum adam dan hawa selalu berbondong-bondong untuk mengikuti trend fashion yang sedang menjadi perhatian. Salah satunya adalah jaket jeans yang pernah popular di tahun 80-an kini kembali hits di generasi millenial.

BAB  II
PEMBAHASAN
A.   Kilas Balik Jaket Jeans
Tren fashion memang selalu berkembang dari waktu ke waktu. Namun, tak bisa dipungkiri juga terpengaruh dari style sebelumnya. Seperti dengan tren saat ini yang banyak sekali mengadaptasi dari tren era 80-an. Ya, fashion juga berputar. Apa yang pernah tren dulu, hilang lalu jadi tren lagi.  Tren 80-an bisa dibilang sebagai awal mula style modern dan "berani". Tahun ini, banyak sekali fashion item yang bisa dibilang berbeda dari tren sebelumnya. Inilah merupakan contoh dari salah satu jenis budaya populer pada dunia fashion. Ada beberapa item fashion pada era 80-an yang kini kembali populer di era generasi millineal, salah satu contohnya yaitu rok mini, jaket kulit, atasan oversize, jaket jeans, pakaian dengan warna yang neon, dan boyfriend jeans.
Jaket jeans yang dipadupadakan dengan rok
Jaket jeans mungkin banyak diantara kalian tidak menyadari bahwa jaket jeans merupakan salah satu item fashion di era 80-an. Jaket jeans, kerap digunakan oleh anak motor pada era tahun 80-an. Meskipun jeans, telah menjadi suatu ikon fashion yang tak lekang oleh waktu, namun perkembangan jaket jeans sempat redup digantikan oleh jenis jaket baru yaitu jaket baseball. Namun beberapa designer ternama Jean Paul Gaultier perancang Perancis, saat Paris Fashion Week ia menghidupkan kembali ikon dunia era 80-an. Ia kembali menghidupkan sebuah tren jaket jeans.
Pada era 80-an jaket jeans identik dengan pria dan geng motor, namun di era modern saat ini, jaket jeans tidak hanya diminati oleh pria saja namun juga oleh wanita. Bahkan salah satu artis ternama berasal dari korea, girls generation menggunakan item fashionn jaket jeans, sebagai cover sampul debut album baru mereka. Selain itu, beberapa brand clothing terkenal seperti zara, hnm, stradiravius, juga kembali mendesign ulang jaket jeans yang lebih trendy, unik, dan memiliki aksen warna yang lebih banyak lagi.
Jaket jeans pada tahun 80-an cenderung hanya memiliki satu warna, yaitu biru tua. Namun sekarang, para designer telah mencoba merancang design jaket jeans dengan motif yang lebih bagus dan disesuaikan dengan tren saat ini. Warna jaket jeans menjadi lebih bermacam-macam, seperti warna putih, hitam, biru muda, dan army. Beberapa jaket jeans saat ini juga diberi tambahan aksen bordir bentuk floral, hal ini digunakan untuk menarik perhatian kaum wanita dan mengikuti perkembangan pasar.
Budaya konsumtif yang paling sering kita temui di kehidupan sehari-hari di antaranya adalah kebiasaan berbelanja (shopping) yang menggelayuti berbagai kalangan. Bagaimanapun keadaan ekonomi mereka saat itu, kegiatan berbelanja pakaian baru bagi seluruh anggota keluarga nampaknya telah menjadi suatu keharusan. Mereka merasa seperti ada yang kurang bila tidak mengenakan segala sesuatu yang baru di hari raya. Tidak kalah dengan kalangan menengah ke bawah, kalangan menengah ke atas pun memiliki budaya konsumtif dalam bentuk yang berbeda. Kalangan ini lebih senang membelanjakan uangnya pada tempat yang sedang tren. Sebagai contoh adalah jaket denim, banyak kalangan yang datang ke toko atau ke mall untuk membeli jaket denim yang sedang menjadi tren ini, tak jarang juga perusahaan clothing dengan brand ternama mengeluarkan jaket denim mengikuti perkembangan tren yang ada. Tak jarang juga para konsumen dengan kalap, membeli dua, tingga hingga empat jaket denim dengan warna yang berbeda hanya untuk memberikan kepuasan dan kenyamanan fisik. Dari penjelasan di atas membuktikan bahwa jaket denim termasuk ke dalam salah satu budaya populer yang berkembang di Indonesia. Mengapa demikian? Hal ini sesuai dengan ciri-ciri dari budaya populer yaitu mengubah pola konsumsi masyarakat artinya khalayak yang terpengaruh dengan keberadaan budaya populer cenderung lebih konsumtif. Mereka tidak ragu membelanjakan uangnya demi mendapatkan kepuasan dan mereka akan melakukan apa saja demi mendapatkan barang-barang yang mereka inginkan.
B.   Sejarah Jaket Jeans
Sejarah jaket jeans atau jaket denim berjalan seiring dengan celana jeans. Mereka bertahan melalui berbagai dekade. Dipakai oleh para koboi dan pekerja tambang, lalu oleh kaum grease, punk, Teddy Boy, hingga hippie dan menjadi lambang pemberontakan anak muda di tahun 1960-an. Kemudian menjadi simbol peace, love and sexual freedom di tahun 1970-an dan 1980-an. Sampai para wanita pun memakainya.
Di tahun 1990-an brand seperti Calvin Klein dan Guess mengadaptasi jaket jeans dan membawanya ke atas catwalk. Kita jadi biasa melihat para supermodel mengenakan jaket jeans dalam advertorial di berbagai media. Dari sini kita mengenal istilah designer jeans atau premium jeans.
Jaket Jeans sudah populer pada saat tahun 1980-an
Dalam perjalanannya melalui beberapa dekade, model jaket jeans tidak mengalami banyak perubahan. Untuk mengetahui model awal jaket jeans kita harus menengok beberapa model awal yang dibuat Levi’s. Model awal ini bernama type I, II, dan III. Tipe terakhir, type III atau juga disebut sebagai trucker jacket, adalah model jaket jeans yang paling sering kita jumpai. Jaket trucker ini kemudian menjadi template dasar dari kebanyakan jaket denim yang beredar saat ini.
Kita semua inget kembali, bahwa pada tahun kejayaan elvis Presley, Marlon Brando dan James Dean adalah tiga pendekar yang mewakili pencitraan lahirnya denim bagi pria. Mereka adalah aktor dan musisi yang berkiprah di era 1950-an, era di saat fashion sedang panas-panasnya meluapkan keelokan bagi kalangan atas pria dan wanita. Pada zaman peradaban tahun mereka, denim jacket sangat diburu oleh kalangan kaum muda dimasanya terutama oleh kalangan muda rebellious terutama di Amerika Serikat. dan pada zaman 70an perjalanan perkembangan jaket denim pun merambah kepada aliran pop sampai rock dan roll, alias rock and roll dan ada perkembangan fashion pada era 80an pun jaket denim semakin pesat, perusahaan perusahaan dan label fashion pun mengeluarkan beberapa inovasi gaya jaket denim mereka di kalangan fashionable. Terutama kalangan muda fashionable yang konsumtif. karena pada zaman tersebut jaket denim bisa dibilangan pakaian yang tidak murah. Sejarah fashion pun memahkotai merek Levi Strauss sebagai pahlawan sekaligus pioner yang menciptkan jaket denim pertama kali. Lalu merek-merek fashion seperti Armani lini kaum muda, Gucci, Calvin Klein, DKN Y, Abercrombie & Fitch hingga Guess setia untuk melansir jaket denim dengan gaya desain yang variatif dan bergaya. Jika sebelumnya ada beberapa aktor kawakan yang namanya melambung pada era 70an, dan pada era 80an ada aktor Lorezo Lamas yang menjadi penerus pewaris fashion jaket denim dan dia kerap sekali tampil dengan berbagai gaya jaket jeans yang berbeda.
C. Peran Media Massa dalam Keberhasilan Budaya Populer
Budaya populer tidak hadir begitu saja di masyarakat, ada faktor yang berperan sangat penting dalam kemunculan budaya populer, salah satunya adalah media massa. Media massa berperan untuk membentuk keragaman budaya yang dihasilkan sebagai salah satu akibat pengaruh media terhadap sistem nilai, dan tindakan manusia. Media massa yang berperan dalam perkembangan jaket jeans adalah media elektronik dan media cetak, sebagian besar orang yang mengetahui tentang celana cutbray melihatnya di televisi atau di majalah. Budaya populer lahir karena hegemoni media massa dalam ruang-ruang budaya public, ide-ide budaya populer lahir dari segala lini budaya, baik dari budaya tinggi maupun rendah. Tanpa disadari industri media khususnya televisi telah memberikan banyak pengaruh pada manusia, televisi mampu menggiring alam pikiran manusia hingga pada akhirnya bisa merubah pola hidup, baik yang positif dan negatif di tengah-tengah kehidupan manusia. Segala macam apa yang ditayangkan televisi akan berdampak pada psikologi manusia yang mempunyai kecenderungan untuk meniru apa saja dari pengalaman mereka lihat. Demikinan juga menurut Graeme Turner (1991:128-129), sajian acara televisi pada dasarnya mengakomodasi praktik sosial, yang senantiasa memproduksi realitas soaila. Sebagai sajian acara televisi mampu memproduksi representasi realitas sosial, maka ia telah melibatkan interaksi dan negosiasi yang kompleks dan dinamis dari sejumlah pelaku. Tak hanya sampai di situ tayangan iklan dengan berbagai macam produk kebutuhan mulai dari kebutuhan primer demi kelangsungan hidup sehari-hari sampai dengan kebutuhan mewah demi naiknya identitas diri di mata masyarakat, telah membayang-bayangi dan mencuci otak kita, agar kita ikut larut di dalamnya dan berakhir dengan tindakan untuk membeli dari produk tersebut. Tiap hari dan tiap menit mata kita disuguhi oleh illustrasi dalam kemasan produk yang diiklankan lewat layar kaca itu dan tanpa sadar kita telah terbius oleh rayuan, bujukan serta tipuan yang menggoda pikiran kita untuk membelinya. Perilaku para artis tidak jarang sebagai pemicu tentang tumbuhnya trend center pola hidup di masyarakat.
Media massa khususnya televisi telah menjadi alat yang ampuh bagai jargon-jargon simbolik sebagai penarik untuk mempengaruhi alam pikiran serta pandangan masyarakat. Lewat media televisi dengan segala macam isi acaranya, maka “gaya hidup” masyarakat pun dapat tercipta dengan sendirinya dan menerjang siapa saja yang ada didepannnya entah anak-anak, remaja maupun orang tua. Demikian juga departement store yang menjual produk-produk bermerek luar negeri di berbagai tempat telah memprovikasi masyarakat kita untuk hidup mewah hingga lahirlah masyarakat konsumtif dan hedonis. Selain tayangan di televisi, iklan yang semakin berkembang di zaman ini dengan tujuan menciptakan rasa ingin (want), walaupun sesuatu yang diiklankan itu mungkin tidak dibutuhkan (need). Misalnya: banyak orang muda yang membeli jaket jeans yang mahal harganya hanya karena trend, bukan karena kebutuhan yang mendesak. Hal yang serupa juga dapat dilihat dari maraknya jumlah remaja atau kaum dewasa yang memiliki  jaket jeans lebih dari satu dengan alasan mengikuti tren.
Iqbal dengan jaket jeans saat membintangi film "DILAN"
Budaya populer yang pada akhirnya disebut sebagai budaya komoditas ini diproduksi secara besar  besaran hanya didasarkan  pada keuntungan ekonomi semata sehingga hal ini memberikan pengaruh buruk bagi masyarakat karena penilaian baik atau buruk bukan lagi didasarkan pada ajaran moral tetapi lebih pada kemampuan ekonomi untuk mendapatkan prestise. Selain itu, produk  produk budaya populer akan merusak budaya elite dan sistem tata krama alam kehidupan bermasyarakat. Budaya populer ini akan menciptakan khalayak-khalayak pasif karena semua kebutuhan hidup sudah disediakan. Penilaian baik buruk dan pedoman  pedoman dalam hidup sudah ditentukan dan diatur oleh industri budaya. Keragaman budaya indonesia yang menjadi kekayaan negeri ini sedikit demi sedikit telah luluh dan menghilang digantikan oleh budaya-budaya modern yang dianggap lebih maju. Budaya-budaya yang menggiring manusia pada pendangkalan makna. Industri budaya memproduksi budaya yang bersifat homogen dengan standar karakterkarakter yang dianggap ideal. Karakter  karakter manusia yang unik menjadi homogen sesuai standar  standar yang di kontruksi oleh industri budaya. Manusia tidak lagi dapat memahami secara mendalam apa yang menimpa mereka saat ini, terutama pengaruh televisi yang dirasa membuat manusia sangat dangkal dalam memahami fenomena kehidupan. Resapan budaya pop sepertinya tidak berhenti begitu saja menciptakan manusia yang pasif dan konsumtif. Lebih jauh budaya pop mencoba menjadi ideologi baru. Kebudayaan popular berkaitan dengan masalah keseharian yang dapat dinikmati oleh semua orang atau kalangan orang tertentu seperti mega bintang, kendaraan pribadi, fashion, model rumah, perawatan tubuh, dan sebagainya. Menurut Ben Agger Sebuah budaya yang akan masuk dunia hiburan maka budaya itu umumnya menempatkan unsur popular sebagai unsur utamanya. Budaya itu akan memperoleh kekuatannya manakala media massa digunakan sebagai penyebaran pengaruh di masyarakat

BAB III
PENUTUP

Simpulan
1.    Budaya popular dapat diartikan sebagai sesuatu yang sudah berkembang kemudian menjadi kebiasaan dan disukai oleh banyak orang.
2.    Jaket Jeans merupakan salah satu budaya populer, hal ini telah dianalisis berdasarkan ciri-ciri budaya populer. Budaya populer lahir karena hegemoni media massa dalam ruang-ruang budaya public, ide-ide budaya populer lahir dari segala lini budaya, baik dari budaya tinggi maupun rendah
3.    Media massa berperan untuk membentuk keragaman budaya yang dihasilkan sebagai salah satu akibat pengaruh media terhadap sistem nilai, dan tindakan manusia. Media massa yang berperan dalam perkembangan celana.

Daftar Pustaka

Ibrahim, Idi Subandi. 2005. Lifestyle Ecstasy: Kebudayaan Pop dalam   Masyarakat Komoditas Indonesia, Edisi Kedua. Yogyakarta: Jalasutra.
Heryanto, Ariel. 2012. Budaya Populer di Indonesia. Yogyakarta: Jalasutra
Irianto,Agus  Maladi. 2015. Media Dan Kekuasaan Antropologi Membaca Dunia Kontemporer. Yogjakarta: Gigih Pustaka Mandiri.








 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS