JAKET JEANS SEBAGAI TREN FASHION ERA MILLENIAL
MAKALAH
Disusun untuk Memenuhi Tugas
pada Mata Kuliah Kebudayaan
Populer Semester V
yang Diampu oleh Laura Andri
R.M., S.S., M. Hum
Oleh;
FAQIH SULTHAN NIM 13010114140110
PINKAN SAFITRI NIM
13010115140043
PRAMESTI PUTRI H NIM 13010115120032
ZILTA KHOVIANIDA N NIM 13010115120037
JURUSAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Budaya Pop
berasal dari dua kata, yaitu kata “Budaya” dan “Pop”. Sebelum kita melangkah
jauh untuk mengetahui arti dari kata “budaya” dan “pop”, maka perlu kita
ketahui pula arti dari masing-masing kata tersebut. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI), Budaya adalah pikiran; akal budi, adat istiadat,sesuatu mengenai
kebudayaan yang sudah berkembang (beradab, maju), sesuatu yang sudah menjadi
kebiasaan yang sudah sukar diubah. Selain itu budaya juga diartikan sebagai
cara manusia memberikan respons kepada lingkungannya, agar dia bisa survive dan
menang. Sedangkan kata “Pop” sendiri berasal dari kata
“Populer” yang dalam KBBI diartikan sebagai sesuatu yang dikenal dan disukai orang banyak (umum), sesuai dengan
kebutuhan masyarakat pada umumnya; mudah dipahami orang banyak, disukai dan dikagumi orang banyak. Maka budaya pop atau budaya
popular dapat diartikan sebagai sesuatu yang sudah berkembang kemudian menjadi
kebiasaan dan disukai oleh banyak orang.
Subandy
menyatakan bahwa budaya pop adalah budaya yang berasal dari rakyat, melalui
pendekatan yang beranggapan bahwa budaya pop adalah sesuatu yang diterapkan
pada rakyat dari atas. Budaya pop adalah budaya otentik rakyat. Budaya pop
seperti halnya budaya daerah merupakan dari rakyat untuk rakyar. Definisi pop
dalam hal ini seringkali dikait-kaitkan dengan konsep romantisme budaya kelas
buruh yang kemudia ditafsirkan sebagai sumber utama protes simbolik dalam
kapitalisme kontemporer. Namun ada satu persoalan dengan pendekatan ini yakni
pertanyaan tentang siapa yang termasuk dalam kategori rakyat. Persoalan lainnya
adalah hakikat wacana dari mana asal-usul budaya itu terbentuk. Tidak peduli
berapa banyak kita memakai definisi ini, fakta membuktikan bahwa rakyat tidak
secara spontan mampu menghasilkan budaya dari bahan-bahan material yang mereka
buat sendiri (Subandy, 20:40)
Istilah
“budaya populer” (culture pop)
sendiri dalam bahasa latin merujuk secara harfiah pada “culture of the people” (budaya orang-orang atau masyarakat).
Mungkin itulah sebabnya banyak pengkaji budaya yang melihat budaya yang hidup
dan serangkaian artefak budaya yang bisa kita temui dalam kehidupan sehari-hari
orang kebanyakan.
Salah satu yang terkenal dan selalu menjadi sorotan
adalah dunia fashion. Dunia fashion dari segi budaya populer selalu menaik
perhatian dunia, kaum adam dan hawa selalu berbondong-bondong untuk mengikuti
trend fashion yang sedang menjadi perhatian. Salah satunya adalah jaket jeans yang pernah
popular di
tahun 80-an kini kembali hits di generasi millenial.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A. Kilas Balik Jaket Jeans
Tren fashion memang selalu berkembang
dari waktu ke waktu. Namun, tak bisa dipungkiri juga terpengaruh dari style
sebelumnya. Seperti dengan tren saat ini yang banyak sekali mengadaptasi dari
tren era 80-an. Ya, fashion juga berputar. Apa yang pernah tren dulu, hilang
lalu jadi tren lagi. Tren 80-an bisa
dibilang sebagai awal mula style modern dan "berani". Tahun ini,
banyak sekali fashion item yang bisa dibilang berbeda dari tren sebelumnya. Inilah merupakan
contoh dari salah satu jenis budaya populer pada dunia fashion. Ada beberapa
item fashion pada era 80-an yang kini kembali populer di era generasi
millineal, salah satu contohnya yaitu rok mini, jaket kulit, atasan oversize,
jaket jeans, pakaian dengan warna yang neon, dan boyfriend jeans.
![]() |
| Jaket jeans yang dipadupadakan dengan rok |
Jaket
jeans mungkin banyak diantara kalian tidak menyadari bahwa jaket jeans
merupakan salah satu item fashion di era 80-an. Jaket jeans, kerap digunakan
oleh anak motor pada era tahun 80-an. Meskipun jeans, telah menjadi suatu ikon
fashion yang tak lekang oleh waktu, namun perkembangan jaket jeans sempat redup
digantikan oleh jenis jaket baru yaitu jaket baseball. Namun beberapa designer
ternama Jean
Paul Gaultier perancang Perancis, saat
Paris Fashion Week ia menghidupkan kembali ikon dunia era 80-an. Ia kembali
menghidupkan sebuah tren jaket jeans.
Pada
era 80-an jaket jeans identik dengan pria dan geng motor, namun di era modern
saat ini, jaket jeans tidak hanya diminati oleh pria saja namun juga oleh
wanita. Bahkan salah satu artis ternama berasal dari korea, girls generation
menggunakan item fashionn jaket jeans, sebagai cover sampul debut album baru
mereka. Selain itu, beberapa brand clothing terkenal seperti zara, hnm,
stradiravius, juga kembali mendesign ulang jaket jeans yang lebih trendy, unik,
dan memiliki aksen warna yang lebih banyak lagi.
Jaket
jeans pada tahun 80-an cenderung hanya memiliki satu warna, yaitu biru tua.
Namun sekarang, para designer telah mencoba merancang design jaket jeans dengan
motif yang lebih bagus dan disesuaikan dengan tren saat ini. Warna jaket jeans
menjadi lebih bermacam-macam, seperti warna putih, hitam, biru muda, dan army.
Beberapa jaket jeans saat ini juga diberi tambahan aksen bordir bentuk floral,
hal ini digunakan untuk menarik perhatian kaum wanita dan mengikuti
perkembangan pasar.
Budaya konsumtif yang paling sering kita temui di
kehidupan sehari-hari di antaranya adalah kebiasaan berbelanja (shopping) yang menggelayuti
berbagai kalangan. Bagaimanapun keadaan
ekonomi mereka saat itu, kegiatan berbelanja pakaian baru bagi seluruh anggota
keluarga nampaknya telah menjadi suatu keharusan. Mereka merasa seperti ada
yang kurang bila tidak mengenakan segala sesuatu yang baru di hari raya. Tidak
kalah dengan kalangan menengah ke bawah, kalangan menengah ke atas pun memiliki
budaya konsumtif dalam bentuk yang berbeda. Kalangan ini lebih senang membelanjakan
uangnya pada tempat yang sedang tren. Sebagai contoh adalah jaket denim, banyak
kalangan yang datang ke toko atau ke mall untuk membeli jaket denim yang
sedang menjadi tren ini, tak jarang juga perusahaan clothing dengan brand
ternama mengeluarkan jaket denim mengikuti perkembangan tren yang ada. Tak
jarang juga para konsumen dengan kalap, membeli dua, tingga hingga empat jaket
denim dengan warna yang berbeda hanya untuk memberikan kepuasan dan kenyamanan
fisik. Dari penjelasan di atas membuktikan bahwa
jaket denim termasuk ke dalam salah satu budaya populer yang berkembang di
Indonesia. Mengapa demikian? Hal ini sesuai dengan ciri-ciri dari budaya
populer yaitu mengubah pola konsumsi
masyarakat artinya khalayak yang terpengaruh dengan keberadaan budaya
populer cenderung lebih konsumtif. Mereka tidak ragu membelanjakan uangnya demi
mendapatkan kepuasan dan mereka akan melakukan apa saja demi mendapatkan
barang-barang yang mereka inginkan.
B. Sejarah Jaket Jeans
Sejarah jaket jeans atau jaket denim berjalan seiring dengan celana jeans.
Mereka bertahan melalui berbagai dekade. Dipakai oleh para koboi dan pekerja
tambang, lalu oleh kaum grease, punk, Teddy Boy, hingga hippie
dan menjadi lambang pemberontakan anak muda di tahun 1960-an. Kemudian menjadi
simbol peace, love and sexual freedom di tahun 1970-an dan 1980-an.
Sampai para wanita pun memakainya.
Di tahun 1990-an brand seperti Calvin Klein dan Guess mengadaptasi
jaket jeans dan membawanya ke atas catwalk. Kita jadi biasa melihat para
supermodel mengenakan jaket jeans dalam advertorial di berbagai media. Dari
sini kita mengenal istilah designer jeans atau premium jeans.
![]() |
| Jaket Jeans sudah populer pada saat tahun 1980-an |
Dalam perjalanannya melalui beberapa dekade, model jaket jeans tidak
mengalami banyak perubahan. Untuk mengetahui model awal jaket jeans kita harus
menengok beberapa model awal yang dibuat Levi’s. Model awal ini bernama type I,
II, dan III. Tipe terakhir, type III atau juga disebut sebagai trucker
jacket, adalah model jaket jeans yang paling sering kita jumpai. Jaket trucker
ini kemudian menjadi template dasar dari kebanyakan jaket denim yang beredar
saat ini.
Kita
semua inget kembali, bahwa pada tahun kejayaan elvis Presley, Marlon Brando dan
James Dean adalah tiga pendekar yang mewakili pencitraan lahirnya denim bagi
pria. Mereka adalah aktor dan musisi yang berkiprah di era 1950-an, era di saat
fashion sedang panas-panasnya meluapkan keelokan bagi kalangan atas pria
dan wanita. Pada zaman peradaban tahun mereka, denim jacket sangat diburu oleh
kalangan kaum muda dimasanya terutama oleh kalangan muda rebellious terutama di
Amerika Serikat. dan pada zaman 70an perjalanan perkembangan jaket denim pun
merambah kepada aliran pop sampai rock dan roll, alias rock and roll dan ada perkembangan
fashion pada era 80an pun jaket denim semakin pesat, perusahaan perusahaan dan
label fashion pun mengeluarkan beberapa inovasi gaya jaket denim mereka di
kalangan fashionable. Terutama kalangan muda fashionable yang konsumtif. karena
pada zaman tersebut jaket denim bisa dibilangan pakaian yang tidak murah.
Sejarah fashion pun memahkotai merek Levi Strauss sebagai pahlawan sekaligus
pioner yang menciptkan jaket denim pertama kali. Lalu merek-merek fashion
seperti Armani lini kaum muda, Gucci, Calvin Klein, DKN Y, Abercrombie &
Fitch hingga Guess setia untuk melansir jaket denim dengan gaya desain yang
variatif dan bergaya. Jika sebelumnya ada beberapa aktor kawakan yang namanya
melambung pada era 70an, dan pada era 80an ada aktor Lorezo Lamas yang menjadi
penerus pewaris fashion jaket denim dan dia kerap sekali tampil dengan berbagai
gaya jaket jeans yang berbeda.
C. Peran Media Massa dalam
Keberhasilan Budaya Populer
Budaya populer tidak hadir begitu saja di masyarakat, ada
faktor yang berperan sangat penting dalam kemunculan budaya populer, salah
satunya adalah media massa. Media
massa berperan untuk membentuk keragaman budaya yang dihasilkan sebagai salah
satu akibat pengaruh media terhadap sistem nilai, dan tindakan manusia. Media
massa yang berperan dalam perkembangan jaket
jeans adalah media
elektronik dan media cetak, sebagian besar orang yang mengetahui tentang celana
cutbray melihatnya di televisi atau
di majalah. Budaya populer lahir karena hegemoni media massa dalam
ruang-ruang budaya public, ide-ide budaya populer lahir dari segala lini
budaya, baik dari budaya tinggi maupun rendah. Tanpa disadari industri media
khususnya televisi telah memberikan banyak pengaruh pada manusia, televisi
mampu menggiring alam pikiran manusia hingga pada akhirnya bisa merubah pola
hidup, baik yang positif dan negatif di tengah-tengah kehidupan manusia. Segala
macam apa yang ditayangkan televisi akan berdampak pada psikologi manusia yang
mempunyai kecenderungan untuk meniru apa saja dari pengalaman mereka lihat. Demikinan
juga menurut Graeme Turner (1991:128-129), sajian acara televisi pada dasarnya
mengakomodasi praktik sosial, yang senantiasa memproduksi realitas soaila.
Sebagai sajian acara televisi mampu memproduksi representasi realitas sosial,
maka ia telah melibatkan interaksi dan negosiasi yang kompleks dan dinamis dari
sejumlah pelaku. Tak hanya sampai di situ tayangan iklan dengan berbagai macam
produk kebutuhan mulai dari kebutuhan primer demi kelangsungan hidup
sehari-hari sampai dengan kebutuhan mewah demi naiknya identitas diri di mata
masyarakat, telah membayang-bayangi dan mencuci otak kita, agar kita ikut larut
di dalamnya dan berakhir dengan tindakan untuk membeli dari produk tersebut.
Tiap hari dan tiap menit mata kita disuguhi oleh illustrasi dalam kemasan
produk yang diiklankan lewat layar kaca itu dan tanpa sadar kita telah terbius
oleh rayuan, bujukan serta tipuan yang menggoda pikiran kita untuk membelinya. Perilaku
para artis tidak jarang sebagai pemicu tentang tumbuhnya trend center pola
hidup di masyarakat.
Media massa khususnya televisi telah
menjadi alat yang ampuh bagai jargon-jargon simbolik sebagai penarik untuk
mempengaruhi alam pikiran serta pandangan masyarakat. Lewat media televisi
dengan segala macam isi acaranya, maka “gaya hidup” masyarakat pun dapat
tercipta dengan sendirinya dan menerjang siapa saja yang ada didepannnya entah
anak-anak, remaja maupun orang tua. Demikian juga departement store yang
menjual produk-produk bermerek luar negeri di berbagai tempat telah memprovikasi
masyarakat kita untuk hidup mewah hingga lahirlah masyarakat konsumtif dan
hedonis. Selain tayangan di televisi, iklan yang semakin berkembang di zaman
ini dengan tujuan menciptakan rasa ingin (want),
walaupun sesuatu yang diiklankan itu mungkin tidak dibutuhkan (need). Misalnya: banyak
orang muda yang membeli jaket jeans yang mahal harganya hanya karena trend,
bukan karena kebutuhan yang mendesak. Hal yang serupa juga dapat dilihat dari
maraknya jumlah remaja atau kaum dewasa yang memiliki jaket jeans lebih dari satu dengan alasan
mengikuti tren.
![]() |
| Iqbal dengan jaket jeans saat membintangi film "DILAN" |
Budaya populer yang pada akhirnya
disebut sebagai budaya komoditas ini diproduksi secara besar besaran
hanya didasarkan pada keuntungan ekonomi semata sehingga hal ini
memberikan pengaruh buruk bagi masyarakat karena penilaian baik atau buruk
bukan lagi didasarkan pada ajaran moral tetapi lebih pada kemampuan ekonomi
untuk mendapatkan prestise. Selain itu, produk produk budaya populer akan
merusak budaya elite dan sistem tata krama alam kehidupan bermasyarakat. Budaya
populer ini akan menciptakan khalayak-khalayak pasif karena semua kebutuhan
hidup sudah disediakan. Penilaian
baik buruk dan pedoman pedoman dalam hidup sudah ditentukan dan diatur
oleh industri budaya. Keragaman budaya indonesia yang menjadi kekayaan negeri
ini sedikit demi sedikit telah luluh dan menghilang digantikan oleh
budaya-budaya modern yang dianggap lebih maju. Budaya-budaya yang menggiring
manusia pada pendangkalan makna. Industri budaya memproduksi budaya yang
bersifat homogen dengan standar karakterkarakter yang dianggap ideal. Karakter
karakter manusia yang unik menjadi homogen sesuai standar standar yang di
kontruksi oleh industri budaya. Manusia tidak lagi dapat memahami secara
mendalam apa yang menimpa mereka saat ini, terutama pengaruh televisi yang
dirasa membuat manusia sangat dangkal dalam memahami fenomena kehidupan.
Resapan budaya pop sepertinya tidak berhenti begitu saja menciptakan manusia
yang pasif dan konsumtif. Lebih jauh budaya pop mencoba menjadi ideologi baru. Kebudayaan popular berkaitan
dengan masalah keseharian yang dapat dinikmati oleh semua orang atau kalangan
orang tertentu seperti mega bintang, kendaraan pribadi, fashion, model rumah,
perawatan tubuh, dan sebagainya. Menurut Ben Agger Sebuah budaya yang akan
masuk dunia hiburan maka budaya itu umumnya menempatkan unsur popular sebagai
unsur utamanya. Budaya itu akan memperoleh kekuatannya manakala media massa
digunakan sebagai penyebaran pengaruh di masyarakat
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
Simpulan
1.
Budaya popular dapat diartikan sebagai sesuatu yang sudah
berkembang kemudian menjadi kebiasaan dan disukai oleh banyak orang.
2. Jaket
Jeans merupakan salah satu budaya populer, hal ini telah dianalisis berdasarkan
ciri-ciri budaya populer. Budaya populer
lahir karena hegemoni media massa dalam ruang-ruang budaya public, ide-ide
budaya populer lahir dari segala lini budaya, baik dari budaya tinggi maupun
rendah
3. Media massa berperan untuk membentuk keragaman budaya
yang dihasilkan sebagai salah satu akibat pengaruh media terhadap sistem nilai,
dan tindakan manusia. Media massa yang berperan dalam perkembangan celana.
Daftar Pustaka
Ibrahim, Idi Subandi. 2005. Lifestyle
Ecstasy: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia, Edisi
Kedua. Yogyakarta: Jalasutra.
Heryanto,
Ariel. 2012. Budaya Populer di Indonesia.
Yogyakarta: Jalasutra
Irianto,Agus Maladi. 2015.
Media Dan Kekuasaan
Antropologi Membaca Dunia Kontemporer. Yogjakarta: Gigih Pustaka Mandiri.




Terima Kasih:)
BalasHapus